Ekki Soekarno di Ekraf Bogor: Buka Suara Soal Tantangan Musik Tradisional dan Pelestarian Budaya di Era Digital

Oleh NRV | 19 Oktober 2026

Ekki Soekarno di Ekraf Bogor: Buka Suara Soal Tantangan Musik Tradisional dan Pelestarian Budaya di Era Digital

KOTA BOGOR – Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menggelar acara bertajuk "Akselerasi Kreatif (Aktif) Musik: Diskusi Industri Musik dan Showcase Musisi Lokal" pada Minggu, 11 Oktober 2026, berlokasi di Kota Bogor. Acara ini menjadi wadah kolaborasi dan pemantik semangat bagi para pelaku industri kreatif musik lokal untuk saling berbagi pandangan, memperluas jejaring, serta mendorong ekosistem musik daerah agar semakin berkembang.

Hadir sebagai salah satu narasumber utama, musisi dan drummer senior Ekki Soekarno membagikan pengalaman, inspirasi, serta pandangannya mengenai industri musik tanah air di hadapan komunitas dan pelaku musik lokal Bogor.

Pentingnya Pelestarian Budaya dan Dukungan Ekosistem

Dalam sesi diskusinya, Ekki Soekarno menekankan betapa kayanya warisan budaya musik Indonesia dari masa ke masa yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Menurutnya, perkembangan zaman dan perbedaan generasi membawa dinamika baru yang sangat positif.

"Anak-anak zaman sekarang ini beda generasi. Banyak dari mereka yang belajar secara otodidak, bahkan dari 'Universitas YouTube', tetapi hasil karya dan kemampuan mereka luar biasa mantap," ujar Ekki di tengah diskusi.

Meski demikian, potensi besar dari generasi muda tersebut memerlukan dukungan konkret. Ekki menegaskan bahwa perkembangan musik tidak bisa berdiri sendiri—harus didukung oleh penyediaan ruang-ruang kegiatan, tempat pertunjukan, serta kolaborasi antarwilayah. Kehadiran perwakilan daerah (seperti IDP yang mewakili 41 perwakilan) menjadi krusial untuk saling menopang dan memperkuat ekosistem musik nasional dari tingkat lokal.

Q&A: Mengapa Seni Musik Tradisional & Kontemporer Indonesia Masih Sulit Mendunia?

Di sela-sela acara, muncul pertanyaan mendasar terkait tantangan yang dihadapi musik tradisional maupun kontemporer berbasis tradisi untuk bisa menembus panggung nasional hingga internasional. Berikut rangkuman pandangan Ekki Soekarno:

T: Mengapa seni atau musik kontemporer berbasis tradisi Indonesia terasa sulit untuk mendunia, bahkan menembus kancah nasional pun masih penuh tantangan? Apakah karena industri di Indonesia belum berani mengemasnya?

J (Ekki Soekarno): Bukan karena masalah produksi atau ketiadaan bahan. Indonesia memiliki kekayaan instrumen yang sangat melimpah—mulai dari ragam perkusi Membranofon (Rapai di Aceh, Tambua di Sumatera Barat, Dol di Bengkulu, hingga Rampak Kendang di Tanah Sunda dan kendang-kendang lainnya seperti Kendang Jawa, Kendang Banyuwangi, Gendang Bali, Gendang Beleq, sampai Tifa di Papua) yang bentuk dan bunyinya berbeda-beda di tiap-tiap daerah.

Masalah utamanya ada pada beberapa faktor:

  1. Pengenalan yang Kurang Otentik & Berkelanjutan: Anak-anak muda bukannya tidak menyukai musik tradisi, melainkan kurang diperkenalkan secara kontinyu dan otentik sejak dini. Pengenalan seni tradisi idealnya masuk ke dalam pembelajaran formal di sekolah, bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler opsional.

  2. Keterbatasan Teknis Alat Musik Tradisi: Alat musik seperti gamelan memiliki sistem laras (tuning) dan tangga nada spesifik (seperti pentatonik) yang tidak bisa sembarangan ditranspos oktafnya seperti alat musik modern. Hal ini membutuhkan eksplorasi dan pemahaman teknis yang mendalam untuk dapat dikolaborasikan.

  3. Apresiasi Asing vs. Lokal: Warga asing sering kali memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang sangat tinggi terhadap musik tradisi kita. Mereka belajar gamelan, memahami slendro dan pelog, hingga belajar nyinden. Sangat disayangkan jika musisi kita yang tampil di kancah internasional justru kurang menguasai akar budayanya sendiri.

  4. Perlu Kolaborasi 5 Elemen Musik & Peran Pemerintah: Perlu ada kolaborasi antarkategori instrumen—termasuk electrophon (instrumen elektronik modern)—serta peran aktif pemerintah melalui kementerian terkait untuk mengemas dan memasyarakatkan musik tradisi agar tetap relevan dan diminati generasi muda.

Harapan Bagi Industri Musik Lokal

Melalui ajang Akselerasi Kreatif Musik ini, diharapkan para pelaku industri tidak hanya berfokus pada penampilan grup musik atau band populer saja, tetapi juga melibatkan musisi-musisi dari sanggar seni dan komunitas tradisi lokal. Kolaborasi lintas generasi dan lintas genre inilah yang menjadi kunci agar musik Indonesia tidak hanya kokoh di dalam negeri, tetapi juga memiliki daya tawar tinggi di tingkat global.

Kembali ke daftar artikel

Artikel lainnya